Assalamualaikum..Wr,Wb.
Terima kasih sebelumnya telah segan untuk mampir di Blog saya,semoga dapat bermanfaat,amin,
Kali Ini saya akan Membahas dan mengulas tentang kasih sayang & cinta menurut islam,kasih sayang & cinta sudah tidak asing lagi kita dengarkan,baik dari kalangan remaja,dewasa,bahkan sampai lansia.
akan tetapi barang kali di antara kita ada yg belum tau atau faham apa sih makna,arti,bagaimana kasih sayang yg sebenarnya menurut islam,.
Terima kasih sebelumnya telah segan untuk mampir di Blog saya,semoga dapat bermanfaat,amin,
Kali Ini saya akan Membahas dan mengulas tentang kasih sayang & cinta menurut islam,kasih sayang & cinta sudah tidak asing lagi kita dengarkan,baik dari kalangan remaja,dewasa,bahkan sampai lansia.
akan tetapi barang kali di antara kita ada yg belum tau atau faham apa sih makna,arti,bagaimana kasih sayang yg sebenarnya menurut islam,.
apa sih itu cinta ?semua orang dan para ahlinya
pastilah memliki pendapat dan pemikiran yang berbeda-beda. Kalau menurtku
pribadi cinta itu ya cinta, saya sendiri juga bingung mengartikan apa yang
namanya cinta itu. Namun cinta itu akan selalu ku berikan dan hanya untuk Allah SWT
dan Rasulullah SAW
lah cinta abadi itu.Cinta yang juga selalu ku berikan untuk ke dua orang tua ku
terutama emak ku, hehehe …….., keluarga ku, sahabatku, orang di sekitarku, dan
masih ada tanda tanya besar untuk cinta yang ku berikan kepadanya (halahhh
paling an cuman cinta monyet biasa, yang penting kerja nyari duit yang banyak
dulu, hehehe malah curhat). Menurut id.wikipedia.org Cinta itu adalah sebuah perasaan yang ingin
membagi bersama atau sebuah perasaan kasih sayang terhadap seseorang.
Pendapat lainnya, cinta adalah sebuah aksi/kegiatan aktif yang dilakukan
manusia terhadap objek lain, berupa pengorbanan diri, empati, perhatian,
memberikan kasih sayang, membantu, menuruti perkataan, mengikuti, patuh, dan
mau melakukan apapun yang diinginkan objek tersebut.
ada yg Bilang cinta itu buta,cinta itu suka sama suka antara 2 insan laki-laki dengan perempuan,tapi cinta yg akan di bahas di sini adalah cinta yg menurut islam.
ada yg Bilang cinta itu buta,cinta itu suka sama suka antara 2 insan laki-laki dengan perempuan,tapi cinta yg akan di bahas di sini adalah cinta yg menurut islam.
Menurut situs asysyariah.com yang pernah saya baca dalam mendefinisikan cinta
sangatlah sulit jika dijelaskan dengan kata-kata. Mungkin definisi cinta hanya
dapat kita rasakan. Ibnul Qayyim pun juga pernah mengatakan bahwa :
“Cinta tidak bisa didefinisikan dengan jelas, bahkan bila didefinisikan
tidak menghasilkan (sesuatu) melainkan menambah kabur dan tidak jelas,
(berarti) definisinya adalah adanya cinta itu sendiri”.
Pada
hakekatnya Cinta itu adalah sebuah amalan hati yang akan terwujud dalam
(amalan) lahiriah. Apabila cinta tersebut sesuai dengan apa yang diridhai Allah
SWT, maka ia akan menjadi ibadah. Dan apabila sebaliknya, jika cinta itu tidak
sesuai dengan ridha Allah SWT maka akan menjadi perbuatan maksiat (seperti yang
terjadi pada zaman sekarang ini). Berarti jelas bahwa cinta adalah ibadah hati
yang bila keliru menempatkannya akan menjatuhkan kita ke dalam sesuatu yang
dimurkai Allah yaitu kesyirikan.
Islam menyeru kepada
cinta, yaitu cinta kepada Allah, cinta kepada Rasulullah, cinta kepada Agama,
cinta kepada aqidah, juga cinta kepada sesama makhluk, sebagaimana Allah
menjadikan perasaan cinta antara suami istri sebagai sebagian tanda dan bukti
kekuasaan-Nya, firman Allah SWT:
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya
ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu
cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa
kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat
tanda-tanda bagi kaum yang berfikir (QS. Ar-Ruum: 21)”.
1. CINTA MAWADDAH adalah jenis cinta mengebu-gebu,
membara dan “nggemesi”. Orang yang memiliki cinta jenis mawaddah, maunya selalu
berdua, enggan berpisah dan selalu ingin memuaskan dahaga cintanya. Ia ingin
memonopoli cintanya, dan hampir tak bisa berfikir lain.
2. CINTA RAHMAH adalah jenis cinta yang penuh kasih
sayang, lembut, siap berkorban, dan siap melindungi. Orang yang memiliki cinta
jenis rahmah ini lebih memperhatikan orang yang dicintainya dibanding terhadap
diri sendiri. Baginya yang penting adalah kebahagiaan sang kekasih walaupun ia
harus menderita. Ia sangat memaklumi kekurangan kekasihnya dan selalu memaafkan
kesalahan kekasihnya. Termasuk dalam cinta rahmah adalah cinta antara
orang yang bertalian darah, terutama cinta orang tua terhadap anaknya, dan
sebaliknya. Dari itu maka dalam al Qur’an , kerabat disebut al arham, dzawi al
arham , yakni orang-orang yang memiliki hubungan kasih sayang secara fitri,
yang berasal dari garba kasih sayang ibu, disebut rahim (dari kata rahmah).
Sejak janin seorang anak sudah diliputi oleh suasana psikologis kasih sayang
dalam satu ruang yang disebut rahim. Selanjutnya diantara orang-orang yang
memiliki hubungan darah dianjurkan untuk selalu ber silaturrahim ertinya
menyambung tali kasih sayang. Suami isteri yang diikat oleh cinta mawaddah dan
rahmah sekaligus biasanya saling setia lahir batin-dunia akhirat.
3. CINTA MAIL adalah jenis cinta yang untuk sementara
sangat membara, sehingga menyedut seluruh perhatian hingga hal-hal lain
cenderung kurang diperhatikan. Cinta jenis mail ini dalam al Qur’an disebut
dalam konteks orang poligami dimana ketika sedang jatuh cinta kepada yang muda
(an tamilu kulla al mail), cenderung mengabaikan kepada yang lama.
4. CINTA SYAGHAF adalah cinta yang sangat mendalam,
alami, orisinil dan memabukkan. Orang yang terserang cinta jenis syaghaf (qad
syaghafaha hubba) boleh jadi seperti orang gila, lupa diri dan hampir-hampir
tak menyedari apa yang dilakukan. Al Qur’an menggunakan term syaghaf ketika
mengkisahkan bagaimana cintanya Zulaikha, isteri pembesar Mesir kepada
bujangnya, Yusuf.
5. CINTA RA’FAH yaitu rasa kasih yang dalam hingga
mengalahkan norma-norma kebenaran, misalnya kasihan kepada anak sehingga tidak
sanggup membangunkannya untuk sholat, membelanya meskipun salah. Al Qur’an menyebut
istilah ini ketika mengingatkan agar janganlah cinta ra`fah menyebabkan orang
tidak menegakkan hukum Allah, dalam hal ini hukuman bagi penzina (Q/24:2).
6. CINTA SHOBWAH yaitu cinta buta, cinta yang mendorong
kelakuan yang menyimpang tanpa sanggup mengelak. Al Qur’an menyebut istilah ini
ketika mengisahkan bagaimana Nabi Yusuf berdoa agar dipisahkan dengan Zulaiha
yang setiap hari menggodanya (mohon dimasukkan penjara saja), sebab jika tidak,
lama kelamaan Yusuf tergelincir juga dalam perbuatan bodoh, “wa illa tashrif
`anni kaidahunna ashbu ilaihinna wa akun min al jahilin (Q/12:33)”.
7. CINTA SYAUQ (RINDU), istilah ini bukan dari Al
Qur’an tetapi dari hadis yang menafsirkan Al Qur’an. Dalam surat Al `Ankabut
ayat 5 dikatakan bahwa barangsiapa rindu berjumpa Allah pasti waktunya akan
tiba. Kalimat kerinduan ini kemudian diungkapkan dalam doa ma’tsur dari hadis
riwayat Ahmad : ”wa as’aluka ladzzata an nadzori ila wajhika wa as syauqa
ila liqa’ika, aku mohon dapat merasakan nikmatnya memandang wajah Mu dan
nikmatnya kerinduan untuk berjumpa dengan Mu”. Menurut Ibn al Qayyim al
Jauzi dalam kitab “Raudlat al Muhibbin wa Nuzhat al Musytaqin”, Syauq (rindu)
adalah pengembaraan hati kepada sang kekasih (safar al qalb ila al mahbub), dan
kobaran cinta yang apinya berada di dalam hati sang pecinta, (hurqat al
mahabbah wa il tihab naruha fi qalb al muhibbi).
8. CINTA KULFAH yakni perasaan cinta yang disertai
kesadaran mendidik kepada hal-hal yang positif meski sulit, seperti orang tua
yang menyuruh anaknya menyapu, membersihkan kamar sendiri, meski ada pembantu.
Jenis cinta ini disebut Al Qur’an ketika menyatakan bahwa Allah tidak membebani
seseorang kecuali sesuai dengan kemampuannya, “la yukallifullah nafsan illa
wus`aha (Q/2:286)”.
Cinta Sejati Menurut
Islam :
1. Tidak
rela yang dicintai menderita
2. Rela berkorban apapun demi yang dicintai
3. Memenuhi segala keinginan dari yang dicintai
4. Tidak pernah memaksakan kehendak kepada yang dicintai
5. Berlaku sepanjang masa. Cinta tersebut hanya ada antara Khalik dan Makhluk, cinta antara makhluk harus ditambah syarat-syarat berikut:
2. Rela berkorban apapun demi yang dicintai
3. Memenuhi segala keinginan dari yang dicintai
4. Tidak pernah memaksakan kehendak kepada yang dicintai
5. Berlaku sepanjang masa. Cinta tersebut hanya ada antara Khalik dan Makhluk, cinta antara makhluk harus ditambah syarat-syarat berikut:
a. Cintanya tersebut
karena Allah S.W T.
b. Harus memenuhi segala aturan yang dibuat oleh Allah SWT.
c. Sex bukanlah cinta dan cinta bukanlah sex, tetapi sex adalah bunga-bunga dari cinta dan hanya ada dalam pernikahan dan hanya dengan yang dinikahi
d. Cinta bukan uang atau harta atau duniawi, tetapi cinta membutuhkan uang, harta dan duniawi.
b. Harus memenuhi segala aturan yang dibuat oleh Allah SWT.
c. Sex bukanlah cinta dan cinta bukanlah sex, tetapi sex adalah bunga-bunga dari cinta dan hanya ada dalam pernikahan dan hanya dengan yang dinikahi
d. Cinta bukan uang atau harta atau duniawi, tetapi cinta membutuhkan uang, harta dan duniawi.
1. Cinta dan kasih Sayang kepada Allah Arrahman Arrahim
Mewujudkan rasa sayang atau cinta kepada Allah
dalam diri seorang muslim adalah suatu keniscayaan. Karena tidak akan
sempurna ibadah seseorang kepada Allah Azza Wa jalla bila tidak ada rasa
cinta di dalamnya.
“Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan
selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun
orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah …” (QS.Al-Baqoroh:
165)
قُلْ إِنْ كَانَ آَبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ
وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا
وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ
مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ
اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ}
Katakanlah: “Jika bapak-bapak, anak-anak,
saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu
usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat
tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya
dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan
keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang
fasik.” (Q.S. At-Taubah 9: 24)
“Dan di antara manusia ada orang-orang
yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya
sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat
cinta kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat dzalim itu
mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu
kepunyaan Allah semuanya dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka
menyesal).” (Q.S. Al Baqarah 2: 165)
2. Sayang kepada Rasulullah SAW
Mencintai Rasulullah merupakan bagian dari keimanan.
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ
اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ (31) قُلْ
أَطِيعُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ
الْكَافِرِينَ .
Katakanlah, “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya
Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang. Katakanlah: “Ta’atilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling,
Maka Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir
Anas berkata, Rosulullah bersabda, “Tidak sempurna iman kalian sampai aku
lebih dia cintai daripada dirinya, orang tuanya, anaknya dan manusia lain
keseluruhan”. (HR. Bukhari dan Muslim)
Di antara bukti kecintaan mereka yang hakiki kepada
Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, antara lain:
a. Meyakini bahwa Beliau shallallahu ‘alaihi wa
sallam benar-benar utusan Allah subhanahu wa ta’ala,
dan Beliau adalah Rasul yang jujur dan terpercaya, tidak berdusta maupun
didustakan. Juga beriman bahwasanya beliau shallallahu ‘alaihi wa
sallam adalah Nabi yang paling akhir, penutup para
nabi. Setiap ada yang mengaku-aku sebagai nabi sesudah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pengakuannya
adalah dusta, palsu dan batil. (Syarh al-Arba’in an-Nawawiyah, oleh Syeikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin hal:
137, Ad-Durar as-Saniyyah bi Fawaid al-Arba’in an-Nawawiyah, hal 38, Syarh al-Arba’in
an-Nawawiyah, oleh Syeikh Shalih Alu Syaikh, hal 56).
b. Menaati perintah dan menjauhi larangannya. Allah
menegaskan,
وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ
عَنْهُ فَانتَهُوا
“Dan apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia, dan apa yang
dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah.” (QS.
Al-Hasyr: 7)
c. Membenarkan berita-berita yang beliau sampaikan,
baik itu berupa berita-berita yang telah terjadi maupun yang belum terjadi,
karena berita-berita itu adalah wahyu yang datang dari Allah subhanahu wa
ta’ala.
وَمَا يَنطِقُ عَنِ الْهَوَى إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ
يُوحَى
“Dan tiadalah yang diucapkannya itu, menurut kemauan hawa nafsunya.
Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (QS. An-Najm: 3-4)
d. Beribadah kepada Allah dengan tata-cara yang telah
diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tanpa ditambah-tambah ataupun dikurangi. Allah
subhanahu wa ta’ala berfirman,
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ
حَسَنَةٌ
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik
bagimu.” (QS. Al-Ahzab: 21)
Juga Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa
sallam telah menjelaskan, “Barang siapa yang
melakukan suatu amalan yang tidak sesuai dengan petunjukku, maka amalan itu
akan ditolak.” (HR. Muslim dalam Shahih-nya (III/1344 no 1718).
e. Meyakini bahwa syariat yang berasal dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam setingkat dengan
syari’at yang datang dari Allah subhanahu wa ta’ala dari segi keharusan untuk
mengamalkannya, karena apa yang disebutkan di dalam As Sunnah, serupa dengan
apa yang disebutkan di dalam Al Quran (Syarh al-Arba’in
an-Nawawiyah, oleh Syeikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin hal:
138). Allah subhanahu wa ta’ala berfirman (yang artinya):
مَّنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللّهَ
“Barang siapa yang menaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah menaati Allah.” (QS. An-Nisa: 80)
f. Membela Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam tatkala Beliau masih hidup, dan membela ajarannya
setelah beliau wafat. Dengan cara menghafal, memahami dan mengamalkan
hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Juga menghidupkan sunnahnya dan menyebarkannya di
masyarakat.
g. Mendahulukan cinta kepadanya dari cinta kepada
selainnya. Sebagaimana kisah yang dialami oleh Umar di atas, akan tetapi jangan
sampai dipahami bahwa cinta kita kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam akan membawa kita
untuk bersikap ghuluw (berlebih-lebihan),
sehingga mengangkat kedudukan beliau melebihi kedudukan yang Allah subhanahu wa
ta’ala karuniakan kepada Nabi-Nya. Sebagaimana halnya perbuatan sebagian orang
yang membersembahkan ibadah-ibadah yang seharusnya dipersembahkan hanya kepada
Allah subhanahu wa ta’ala, dia persembahkan untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Contohnya: ber-istighatsah (meminta pertolongan) dan
memohon kepadanya, meyakini bahwa beliau mengetahui semua perkara-perkara yang
ghaib, dan lain sebagainya. Jauh-jauh hari Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memperingatkan
umatnya agar tidak terjerumus ke dalam sikap ekstrem ini, “Janganlah kalian berlebih-lebihan dalam memujiku sebagaimana orang-orang
Nashrani berlebih-lebihan dalam memuji (Isa) bin Maryam, sesungguhnya aku
hanyalah hamba-Nya, maka ucapkanlah (bahwa aku): hamba Allah dan rasul-Nya.” (HR. Al-Bukhari dalam Shahih-nya, lihat Fath al-Bari [VI/478 no: 3445])
h. Termasuk tanda mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, adalah mencintai
orang-orang yang dicintainya. Mereka antara lain: keluarga dan keturunannya (ahlul bait), para sahabatnya (Asy-Syifa bi Ta’rifi Huquq al-Mushthafa,
karya al-Qadli ‘Iyadl [II/573], Majmu’ Fatawa Ibn
Taimiyah [III/407], untuk pembahasan lebih luas silahkan lihat: Huquq an-Nabi ‘Ala Ummatihi fi Dhaui al-Kitab wa as-Sunnah, karya Prof. Dr. Muhammad bin Khalifah at-Tamimi
[I/344-358]), serta setiap orang yang mencintai beliaushallallahu ‘alaihi wa
sallam. Juga masih dalam kerangka mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, adalah kewajiban
untuk memusuhi setiap orang yang memusuhinya serta menjauhi orang yang
menyelisihi sunnahnya dan berbuat bid’ah. (Asy-Syifa bi Ta’rifi
Huquq al-Mushthafa, [2/575], untuk pembahasan lebih
lanjut silahkan lihat: Huquq an-Nabi ‘Ala Ummatihi [I/359-361]).
3. Sayang kepada sesama
Jarir bin Abdullah berkata, Rosulullah bersabda, “Allah tidak akan
menyayangi orang yang tidak menyayangi manusia lainnya.” (HR. Bukhori dan
Muslim)
Yang termasuk sayang kepada sesama adalah:
Cinta dan Sayang kepada orang tua
Abu Hurairoh berkata: “Ada seorang laki-laki datang ke
Rosulullah, lalu bertanya, Wahai Rosulullah, siapakah manusia yang paling
berhak untuk kuperlakukan dengan sebaik mungkin? Rosulullah bersabda, Ibumu.
Lalu ia bertanya, lalu siapa? Beliau menjawab, ibumu. Ia betanya, lalu siapa
lagi? Ibumu, jawab Rosulullah. Ia bertanya lagi, lalu siapa? Bapakmu, jawab
beliau. (HR. Bukhori)
Cinta dan Sayang kepada suami atau istri
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah, Dia
menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan
merasa tentram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang.
Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi kaum yang
berfikir” (QS.Ar-Rum:21)
Cinta dan Sayang kepada saudara
Anas berkata: Rosulullah bersabda,” Tidak sempurna
iman kalian sampai ia mencintai saudaranya sebagai mana ia mencintai dirinya
sendiri.” (HR. Bukhori)
Cinta dan Sayang kepada anak
Abu Hurairoh berkata: “sewaktu Rosulullah mencium
Husain bin Ali, di dekatnya ada sahabat yang sedang duduk, bernama al-Aqro bin
Habis at-Tamimi. Al-Aqro berkata, saya telah mempunyai 10 anak, tapi saya tidak
pernah mencium satupun dari mereka. Rosulullah memandanginya, lalu bersabda,”
Barang siapa yang tidak punya rasa kasih sayang, maka ia tidak akan disayangi.”
(HR. Bukhori)
Cinta dan Sayang kepada tetangga
Said bin Abi Syuraikh berkata: Rosulullah bersabda,
“Demi Allah, ia tidak beriman. Allah, ia tidak beriman. Allah, ia tidak
beriman. Ada yang bertanya, siapakah yang Anda maksud wahai Rosulullah?
Rosulullah menjawab, Orang yang tetangganya merasa tidak nyaman dari kejahatan
dan keburukannya.” (HR. Bukhori)
Cinta dan Sayang kepada teman
Anas bin Malik berkata: “ Aku pernah duduk di sisi
Rosulullah, lalu lewatlah seorang laki-laki. Ada laki-laki lain dari suatu kaum
yang berkata, Wahai Rosulullah, sungguh aku sangat mencintai (menyayangi)
laki-laki itu. Rosulullah bertanya, Apakah kamu telah memberitahukan hal itu
kepadanya? Laki-laki itu menjawab, Belum. Rosulullah bersabda, Berdirilah, dan
beritahukanlah kepadanya. Maka laki-laki itupun berdiri menghampirinya, ia
berkata, Wahai saudaraku, demi Allah, aku mencintaimu karena Allah. Lalu orang
tersebut menjawab, Semoga Allah juga mencintaimu karena kamu mencintai
karena-Nya.” (HR. Ahmad, no.1198)
Cinta dan Sayang kepada hewan
Abu Hurairoh berkata: Rosulullah bersabda,”pernah ada
sorang laki-laki dalam perjalanan, ia merasa sangat haus. Kemudian ia bertemu
sumur dan turun ke dalamnya, ia minum air sumur lalu keluar. Tiba-tiba ada
anjing yang menjulurkan lidahnya, mengendus tanah karena kehausan. Ia
berkata dalam hatinya, anjing ini mengalami apa yang tadi aku alami. Lalu ia
(turun ke sumur lagi) memenuhi sepatu kulitnya (dengan air), lalu ia
gigit dengan mulutnya lalu keluar, selanjutnya ia memberi minum anjing tersebut.
atas perbuatannya itu, Allah bersyukur padanya dan mengampuni dosanya. Para
sahabat bertanya, wahai Rosulullah, apakah kita akan mendapat pahala jika
menolong hewan? Beliau bersabda, “Kebaikkan kepada setiap yang punya hati
(makhluk hidup) ada pahalanya” (HR. Bukhori dan Muslim)
Cinta dan sayang kepada tumbuhan
Pesan Abu Bakar ra. Kepada pemimpin pasukannya, Yazid
bin Abu Sufyan:
Dan aku berwasiat kepadamua 10 hal. ” janganlah kalian
membunuh wanita, bayi atau orang tua lanjut usia. Dan janganlah kamu memotong
pon yang sedang berbuah. Dan janganlah kamu merusak gedung atau bangunan. Dan
janganlah kamu membunuh camping atau onta kecuali untuk di makan. Dan janganlah
kamu membakar lebah atau menenggelamkannya. Dan janganlah kamu korupsi, Dan
janganlah kamu berkhianat.” (HR. Malik)
Cinta dan sayang kepada lingkungan
Dan janganlah kamu
membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah
kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan
dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang
berbuat baik. (QS. Al-A’raf: 56)
Jika diperhatikan, konsep kasih sayang dalam Islam
lebih lengkap dan komplit. Sehingga kita tidak perlu lagi konsep kasih sayang
dari agam atau ajaran filsafat kepecayaan lain.
Aplikasi Cinta Dan Kasih Sayang
Jika kita benar-benar memperaktikkan ajaran Islam
secara kaffah (integral), maka kita akan merasakan besarnya kasih sayang dalam
diri kita, dan orang lainpun merasakannya kenikmatan kasih sayang yang menjadi
bagian dari ajaran Islam. wallahu’alam bishowwab
“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum
kamu menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu
nafkahkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.”
( QS. Ali Imran 3:92 )
Secara fitrah kita mendambakan cinta kasih dari sesama
manusia. Sebaliknya secara naluri kita akan sedih jika orang lain membenci atau
memusuhi kita. Salah satu wujud sesungguhnya dari bentuk cinta dan kasih
sayang dalam islam adalah sedekah, dimana sedekah menyimpan misteri dan
membangkitkan energi yang luar biasa.
Anak adam yang memberikan sedekah dengan tangan
kanannya sementara tangan kirinya tidak mengetahui lebih kuat dari seluruh
ciptaan Tuhan. Bersedekah dengan tangan kanan dan tangan kiri tidak tahu yang
berarti bersedekah tanpa mengharapkan apapun, tanpa pamer, niatnya sangat
bersih dan ikhlas hanya mengharap ridha Allah SWT saja. Inilah energi sedekah
yang luar biasa.
kamu menampakkan sedekahmu, maka
itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada
orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik. Dan Allah akan
menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesaalahmu, dan Alloh mengetahui apa
yang kamu kerjakan.” (QS.al-Baqarah 271.)
"Tidak beriman seseorang di antara kamu sehingga
ia mencintai saudaranya sebagaimana mencintai dirinya sendiri. (Riwayat
Bukhari dan Muslim)
Semua orang mempunya perasaan cinta
dan kasih sayang. Sangat rugilah bagi mereka yang tidak menggunakan perasaan
cinta dan kasih sayang yang diberikan oleh Allah kepada kita. Cinta bukan hanya
untuk seseorang yang kita cintai. Cinta juga untuk Allah, Nabi , Ibu bapa ,
Keluarga dan semua orang yang berhak kita cintai. Hargailah rasa cinta hadiah
dari illahi. Islam juga memberikan tips kasih sayang yang dapat diamalkan
umatnya dalam melahirkan rasa cinta:
1. Cintai Allah dan Rasulullah
melebihi makhluk.
2. Cintailah makluk dengan penuh
persediaan dan matlamat.
3. Perasaan cinta perlu selari dengan
kehendak Islam dan tidak melangggar batas agama.
4. Jauhi cinta ke arah maksiat.
5. Sentiasa mendoakan kebaikan dan
kesejahteraan orang lain.
6. Hadiri majlis ilmu.
7. Berikan hadiah yang bermanfaat.
8. Binalah Cinta yang hebat sudah
pasti bahagia dunia dan akhirat
Sesungguhnya kasih
sayang itu cabang (penghubung) kepada Allah SWT. Barang siapa yang
menyambungnya,maka Allah akan menyambung (kasih sayang-Nya) dengannya. Dan
barang siapa yang memutuskannya, maka Allah akan memutus (kasih sayang-Nya)
dengannya.” (HR. Bukhori)
Begitu indahnya cinta Islam, cinta untuk Allah, cinta
untuk Rasulullah, cinta untuk orang yang melahirkan kita, cinta untuk orang tua
kita, cinta untuk sahabat kita, cinta untuk orang di sekitar kita, cinta untuk
orang yang akan mendampingi kita nantinya, dan tentunya cinta untuk semua
makhluk-makhlukNya. Namun pada zaman sekarang dan situasi kondisi saat
ini, cinta yang lahir cenderung penuh dengan hawa nafsu, nafsu yang
menggebu-gebu dan menyimpang dari norma-norma agama dan apa yang telah
diperintahkan Allah SWT, serta menyimpang dari sebuah tujuan murni cinta itu
yang sebenarnya. Setiap saat, setiap hari kita terutama pada kalangan muda
bahakan anak-anak pun dibuai dengan lagu-lagu cinta, dibuat terlena dengan
tontonan kisah cinta (sinetron, film) yang menghanyutkan kita ke dalam dunia
khayal yang merugikan. Bahkan sekarang ini banyak orang yang menyalahartikan
makna dan arti dari apa cinta itu sebenarnya, sehingga mereka terdorong
melewati batas pergaulan dan tatasusila seorang mukmin.
Maka daripada itu,
renungkanlah sejenak kawan hakikat sebuah kehidupan kita di dunia ini.
Rasullulah SAW bersabda:
“Tidak sempurna iman salah seorang dari
kamu sehingga ia mencintai saudaranya seperti ia mencintai diri sendiri.” Juga
sabda Rasulullah, “Barang siapa ingin mendapatkan manisnya iman, maka hendaklah
ia mencintai orang lain karena Allah.” (HR Hakim dari Abu Hurairah)”.
Ingatlah kawan kita di dunia ini hanyalah
mampir minum sebentar. Lihatlah matahari yang biasa menerangi alam semesta
ini, seterang-terangnya dan sepanas-panasnya dia…saat waktunya tiba, dia
juga akan menghilang dan pulang kembali ke peraduannya, begitu juga dengan apa
yang kita miliki di dunia ini, bahkan diri kita sendiri, jika saatnya tiba,
…kita juga akan sama dengan matahari itu.
demikian lah Pembahasan tentang Kasih sayang &
cinta menurut islam,Semoga bermanfaat & kita realisasikan serta amalkan
dalam kehidupan kita sehari-hari.mohon maaf jika ada kesalahan dalam
pengetikan,mohon kritik dan sarannya..kesempurnaan Hanyalah milik Allah swt



Tidak ada komentar:
Posting Komentar